Sabtu, 22 Maret 2014

Muse for the moose






Bis kami melewati kilang pengolahan gas alam yang berpagar kawat, terlihat dua ekor rusa yang terperangkap dibalik pagar dengan tanduk mereka yang berbelit semak.  Dua orang di depan saya berbincang.

Yang enak itu anaknya, dagingnya masih lembut, tangkapnya gampang, tinggal kita pancing dengan senter, pelan-pelan dia akan mendekat, tinggal kita pukul kepalanya.”

Tidak lari ya?”

Ah’ tidak, kita putar-putar senternya nanti dia terpancing sinar senter, kan penasaran toh, kalau sudah kena, kuping anaknya kita pijat keras-keras supaya di jerit, nanti ibunya pasti datang, tinggal kita ikat saja.

Kalau sepasang, tembak jantannya, nanti yang betina lari, kau tunggu saja, lama-lama nanti di pasti balik tengok jantannya, tapi kalau kau tembak betinanya sampai bengkok kau tunggu jantannya takkan balik lagi dia.” Dia melanjutkan.

Reaksi pertama saya adalah terkesiap, saya selalu memposisikan berada di pihak satwa liar dan menentang sebagian besar bentuk perburuan. Lalu pikiran saya melayang, saya teringat cerita pak tua dalam The Old Man and the Sea-nya Ernest Hemingway tentang sepasang marlin yang juga membuat saya sedih.

Mungkin terdengar aneh dan terlalu melankolis, tapi kita merespon sebuah kisah dengan jati diri kita yang sesungguhnya, siapa diri kita yang sebenarnya.
Sekarang giliran anda, apa yang terlintas di benak anda saat mendengar dialog semacam diatas? Tentang seru dan uniknya berburu di ranah papua? Romantis namun deramatisnya rusa betina yang kembali untuk jantannya? Eksotisnya kuliner yang bisa dirasa? Atau kejam dan rakusnya manusia? Tak harus memilih, tapi rasakan saja, siapa anda sebenarnya? Seperti apakah kita sesungguhnya?

He remembered the time he had hooked one of a pair of marlin. The male fish always let the female fish feed first and the hooked fish, the female, made a wild, panic-stricken, despairing fight that soon exhausted her, and all the time the male had stayed with her, crossing the line and circling with her on the surface. He had stayed so close that the old man was afraid he would cut the line with his tail which was sharp as a scythe and almost of that size and shape. When the old man had gaffed her and clubbed her, holding the rapier bill with its sandpaper edge and clubbing her across the top of her head until her colour turned to a colour almost like the backing of mirrors, and then, with the boy‘s aid, hoisted her aboard, the male fish had stayed by the side of the boat.

  Then, while the old man was clearing the lines and preparing the harpoon, the male fish jumped high into the air beside the boat to see where the female was and then went down deep, his lavender wings, that were his pectoral fins, spread wide and all his wide lavender stripes showing. He was beautiful, the old man remembered, and he had stayed.

  That was the saddest thing I ever saw with them, the old man thought. The boy was sad too and we begged her pardon and butchered her promptly. –quotes from The Old Man and the Sea by Ernest Hemingway-

Jumat, 21 Maret 2014

Gama GT, berat badan dan hibernating diet.





Akhir tahun lalu saya memutuskan untuk mengikuti anjuran dokter ahli penyakit dalam untuk menurunkan berat badan, dikombinasikan dengan terapi infused water, hibernating diet, dan olahraga. Memang berat badan saya naik turun, tapi secara kumulatif, walaupun belum puas dan belum mencapai berat ideal, tapi sampai saat ini, bisa dibilang bobot saya menurun.

Bulan lalu saya melakukan general medical checkup rutin tahunan, hasilnya baru diemail kantor minggu ini dan sungguh menjadi kejutan yang menyenangkan dan menyemangati. Hasil treadmill saya membaik, SGOT, SGPT dan trigliserida turun hingga masuk ambang batas normal, asam urat turun tapi masih sedikit diatas ambang normal, dan yang paling signifikan adalah gama GT, turun dari 251 ke 83, memang masih diatas normal, tapi mengingat setelah 7 tahun nilainya selalu tinggi jauh diatas batas normal (8-65) walaupun telah konsultasi ke internis  dan diterapi berbagai macam obat & suplemen tetapi saja tidak berubah, justru saat saya memutuskan menurunkan berat badan inilah dapat terlihat perbedaannya.

Memang untuk beberapa item seperti LED, kolesterol dan LDL naik dan kesimpulan dari hasil medical checkup saya masih harus menurunkan lagi berat badan dan konsultasi ke internis karena hematuria mikro, angka timbangan pun sudah terlihat mulai merangkak naik lagi, tapi intinya saya merasa saya sudah berada di jalur yang benar, tinggal meneruskan dan berusaha lebih keras.

Satu hal yang perlu disorot adalah metoda yang saya jalani, selain menurunkan berat badan, dan infused water yang sudah jarang saya lakukan (keterbatasan ongkos produksi), Hibernating diet mungkin juga bisa dipertimbangkan sebagai elemen penting dalam menstabilkan produksi enzyme liver saya, bukan sekedar teori awan petruk wedhus gembel yang saya buat (sorry, private joke), tapi jika kita menelusuri beberapa literatur di internet, banyak yang sudah mengklaim khasiat metoda ini untuk kesehatan hati. Lagipula, sebagai umat muslim, saya tidak ragu sedikitpun akan khasiat dari madu.

Big is beautiful, but it’s not healthy. So, be wise n be healthy.

Kamis, 14 November 2013

Use it or lost it




“Masih bingung menentukan arah karir anda?” Kalimat inilah yang mengawali sebuah test psikologi yang saya peroleh dari email seorang kawan bertahun yang lalu. Tahun dimana idealisme dan passion masih yang utama, dilandasi jiwa muda, faktor fresh grad, dan pikiran yang sedikit naïf.  Sangat jelas diingatan, terlepas dari latar belakang pendidikan saya yang natural science itu, hasil dari test tersebut menyatakan bahwa:
“Bila terkaitan dengan urusan merancang dan membuat konsep gagasan dalam pikiran, Anda ahlinya. Kemampuan otak kanan Anda memang lebih dominan ketimbang otak kiri. Karenanya, karier yang ideal bagi Anda sebaiknya adalah yang berhubungan erat dengan kegiatan kreatif. Misalnya penulis, fotografer, penyanyi, desainer interior, atau perancang busana. Jika berhasil menemukan profesi yang benar-benar Anda sukai, dijamin antusiasme Anda akan meluap-luap dan ide-ide brilian akan meluncur dahsyat.”
Sebuah alinea yang membangkitkan semangat. Saya sepenuhnya setuju dengan pendapat ini, didukung beberapa test psikologis lain yang memberikan hasil yang serupa. Dimasa itu gagasan dalam berbagai rupa tumpah ruah dari kepala Saya, Saya yang sedari kecil gemar corat-coret, dan menghabiskan setiap tepian dari lembaran textbook dengan bentuk-bentuk sketsa mungkin sudah memilih jurusan design grafis kalau saja ketidaktahuan dan nasib yang tengah bersekongkol tidak menuntun saya untuk menjalani setapak yang lebih berlandaskan logika dan perhitungan matematis.
Sore tadi saya temukan lagi file test psikologis ini dalam sebuah folder using. Sebelas tahun berlalu melewati tiga jenis profesi berbeda, tujuh tahun terakhir dijalani dengan posisi dan rutinitas yang sama ternyata telah membentuk Saya menjadi pribadi yang baru, profesi yang Saya jalani selama ini telah memahat Saya menjadi manusia yang berbeda. Hasilnya, Saya yang sekarang adalah:
“Anda adalah orang yang teliti dan memiliki tangan terampil dalam menangani  berbagai hal. Karenanya, profesi yang Anda pilih sebaiknya adalah jenis pekerjaan yang mampu mengekspos keahlian Anda tersebut. Entah sebagai seorang chef, terapis di salon, mekanik, atau petugas dokumentasi di perpustakaan. Keahlian mengorganisasi, memperbaiki serta membuat suatu hal berjalan dengan semestinya, merupakan sejumlah kelebihan yang patut Anda jadikan andalan. “

Use it or lost it, tak peduli itu pengetahuan yang tersimpan baik di sel abu-abu otak ini atau otot-otot yang melekat di belulang, bahkan talenta yang terbawa secara genetis di pilinan DNA. Semuanya akan menjadi tumpul, melemah atau bahkan hilang jika mereka tidak pernah digunakan.
Waktu mampu mengubah segalanya, tak peduli itu baja yang keras, karang yang kokoh, atau bahkan kepribadian yang teguh, dia mengikis dengan sabar seperti air pada bebatuan, lalu tanpa sadar kitapun telah menjadi orang yang berbeda.
Berpikirlah, belajar, perluas wawasan, temukan hal baru, gerakan otot-otot itu, berolahraga, dan asah terus bakat yang kita miliki, jangan biarkan mereka menyusut lalu hilang.

tukang nenteng kaleng