Rabu, 05 September 2012

Squidward Tentackles

"Do You see Squidward in Me?"
"In You?"
Trip ini menjadi terasa berbeda sejak head office memutuskan hanya menugaskan satu personil saja di pengasingan kali ini. kesendirian memberi saya peluang untuk lebih banyak berkontemplasi (atau ngobrol dengan pohon).

Pagi ini seekor mahluk bertentakel memaksa saya untuk bercermin, mengajak untuk melihat dirinya agar saya bisa melihat diri saya sendiri secara jujur.Siapa dia? Siapa saya?

Seekor (sebenarnya dia ataupun saya tidak satupun yang memiliki ekor) cumi-cumi bernama Squidward yang kehilangan rambutnya secara konsisten dan pasti, penuh dengan gerutu dan pemikiran destruktif, bekerja sebagai kasir di Krusty Crab bersama spon kuning yang tinggal dalam nenas di dasar laut. Squidward tidak pernah menyukai pekerjaannya, bahkan dia membencinya, dia membenci tempat kerjanya, membenci atasannya, membenci rekan kerjanya, bahkan kadang hidupnya. Mahluk penyendiri ini berpikir dia telah terjebak menjalani hidup yang bukan hasratnya, berpikir bahwa dia memiliki bakat seni yang sayangnya hanya dia dan hanya dia seorang/seekor yang berpikir dirinya berbakat.

Kesemua sikap, tingkah dan perilaku yang dia miliki membuat dirinya hanya menjadi objek penderita di Bikini Bottom

Sungguh mahluk yang malang pikir saya, entah apa, ada yang salah dari caranya melihat hidup, dari caranya bersikap menanggapi keadaan. Spon kuning tetangganya yang selalu dia anggap sebagai pengganggu itu juga bekerja di tempat yang sama, tapi dia bisa menikmati bekerja di Krusty Crab, berburu ubur-ubur, dan dia selalu bahagia. Songe Bob yang menjalani hidup dan pekerjaanya dengan penuh makna, "Meaningfull life and job"

Tapi tunggu!Siapa introvert yang kehilangan rambutnya secara konsisten? Tubuh dengan kandungan kolesterol tinggi, membenci pekerjaannya dan menderita merasa menjalani hidup yang bukan hasratnya?

Sepertinya saya harus berubah, segera. atau saya hanya berakhir menjadi asinan juhi.
'Lalu  berubah jadi apa? Sponge Bob? Patric the Star? Mr. Crab? ataukah Plankton?

Jumat, 24 Februari 2012

ten speed bicycle


Sesekali saya mencuri pandang, paruh baya, dengan kulit keriput, berkeringat lusuh dia terduduk di dekat pintu, sehabis berpanas-panas naik turun dua-tiga tanki setinggi 20 meter-an, semburan dingin AC dapat membuatnya rontok menurut pengakuannya pada petugas jaga yang sesungguhnya tak menghiraukan perkataannya. 
Pasti rekan satu profesi pikir saya, tukang nenteng kaleng juga. Memandangnya saya jadi membanyangkan saya sendiri lima atau sepuluh tahun kedepan, ujug-ujug perut saya mules, bukan diare atau masuk angin, tapi benar-benar mules membayangkan masa tua saya, bayangan yang sungguh tidak mengenakan. “Ya Allah, saya tidak mau seperti itu.” Saya membatin.
Dia memandang kearah saya, sesaat melihat tulisan yang terbordir di atas saku depan seragam lalu tersenyum ramah. "Taufik masih ada?" tanyanya membuka percakapan?
                "Masih" jawab saya ragu, tidak yakin bahwa kita sedang mengacu pada orang yang sama.
                “Hum, Mandagie, Ilhar?” tanyanya lagi
                “Iya masih juga, bapak kenal?”
              “Dulu saya sempat ditempatmu juga, jalan kerja bareng dengan mereka. …tahun berapa ya?” dia menerawang.
                “Oh.., masih senior saya juga dong” Saya coba berbasa basi, senyumnya kecut ketika mendengar itu.
 “Sudah jadi bos semua ya mereka? “ Matanya menyipit, pertanyaannya tak meminta jawaban. Malah terdengar seperti sebuah pernyataan kebencian di telinga saya. 
Mules saya tidak berkurang setelah percakapan pendek itu, malah sepertinya semakin menjadi, seperti bermetamorfosa dari sebuah bentuk kekhawatiran. Saya ingat pertama menceburkan diri dalam pekerjaan ini, saya sudah dapat melihat kedepan bahwa yang dituju tidaklah benderang, maka saya tetapkan untuk bertahan satu tahun saja, lalu mencari yang lebih baik, itu targetnya. Tapi apa lacur, sekarang sudah enam tahun berlalu dan saya masih berada di titik yang sama. Fakta yang serupa laba-laba, merayap-rayap dirongga perut saya. Sepertinya dialah penyebab mules itu. Lalu bagaimana enam tahun berikutnya? Apakah saya akan berakhir tragis, serupa dengan nasib si pak tua. Atau akankah seperti nama-nama yang disebutkannya? Ataukah lebih baik? 
Kita mulai mengayuh di garis start yang sama, tapi pada akhirnya kita mengakhiri di garis finish yang berbeda. di tingkat yang beragam, dengan pencapaian masing-masing. Dan kini sang laba-laba pun menjaring sarang dalam pikiran saya.
“Life is like a ten speed bicycle. 
Most of us have gears we never use"-Charles M. Schulz.

Kamis, 02 Februari 2012

Space maker


Namanya space maker, lebih tepatnya lugged space maker, gara-gara baca buku life traveler-nya Windy Ariestanty yang dengan penuh keyakinan mempromosikan barang ini sebagai alat bantu travel favoritnya, mengatasi issue paling umum dari seorang traveler, yaitu packing bawaan.  Maka, dengan gegap gempita saya langsung menghadap mbah gogel , tanya ini itu soal barang ini. Di toko online barang ini dijual berkisar Rp98,000.- dengan keterangan bisa menghemat ruang sampai 50% hingga 75%, pencarian berlanjut diluar dunia maya, setelah satu-dua kali gagal, akhirnya ketemu juga di Margocity depok dengan harga cuman setengahnya dari yang ditawarkan di internet.
sebelum dan sesudah
Ternyata bentuknya hanyalah sebuah kantung pelastik dengan zipper di mulutnya, jadi saat pakaian di press, udara tidak balik lagi dan tumpukan pakaian tidak mengembang, mungkin jika menggunakan koper persegi yang statis bentuknya, alat ini bisa terasa manfaat efisiensi ruangnya, tapi karena saya menggunakan ransel yang sudah ada penghuni tetap didalamnya (red: alat2 kerja) maka ruang dalam ransel sudah tidak ideal lagi untuk alat ini, saya rasa metode gulung pakaian ala tukang nenteng kaleng masih lebih efektif, tapi itu semua relative. Jadi jika penasaran, silahkan mencoba.

Apa cerita anda? (1)


“Apa cerita anda?” Tanya Rene dalam sebuah artikelnya.
“Sesuatu yang membuat anda merasa benar-benar HIDUP. Apakah ada hal-hal yang membuat anda terbangun, tergerak & terpacu untuk berkarya setiap hari?”
”Apabila uang bukan persoalan dimanakah anda sekarang? Apabila waktu bukan masalah,apa yang anda kerjakan sekarang?”

berawal dari buku “Your job is not your career” saya jadi pengikut setia kolom Rene Suhardono,
termasuk sebuah artikel yang saya kutip diatas.
Kalimat pertama adalah pertanyaan yang masih membuat saya tercenung bila mengingatnya,
passion masih merupakan sesuatu yang hilang dan dalam proses pencarian
lalu saya buat tulisan ini, sebuah upaya membaca apa sebenarnya isi kepala saya.

Jadi, mari kita urai perlahan... Saya awali dari menjawab pertanyaan pertama.

Sebuah animasi cantik selalu menarik perhatian saya, juga sebuah lukisan, karikatur, atau banner, atau iklan di jalan. Membaca “Babyboss,” sebuah majalah design grafis dan kisah orang orang di dalamnya, secara jujur tanpa berlebihan selalu membuat saya merasa lebih hidup. Saya ingat jaman kuliah dulu, saya selalu lebih tertarik untuk mengamati tugas kuliah teman kost saya yang mengambil jurusan diskomvis dibanding tugas kuliah saya sendiri. Lalu kenapa saya tidak mengambil program studi diskomvis saja?  Well”, Jawabanya akan sepanjang dan berliku jalur cianjur-puncak-ciawi. Lagipula itu dahulu, yang penting adalah sekarang.
Tapi apa lalu hal2 yang berkenaan diatas membuat saya terbangun, tergerak dan terpacu untuk berkarya?
Selain corat coret tidak karuan sambil menunggu completed loading (red: kerjaan sehari2 saya sekarang),  saya tidak pernah benar benar terbangun untuk berkarya. Dulu sempat tergerak untuk membeli sebuah graphic tablet dengan niat positif agar memacu saya menjadi produktif di waktu senggang, tapi pada akhirnya hanya hangat hangat tahi ayam saja dan sekarang gadget itu duduk manis disebelah computer , berdebu tak pernah tersentuh.

Usaha mikro….
Entah sudah habis berapa uang yang saya gunakan untuk memulai sebuah usaha.  Hingga sekarang belum ada satupun yang menunjukan keberhasilan,  bertahan 1 tahun atau balik modal saja tanpa keuntungan adalah prestasi terbaik, sisanya nombok.  Saya selalu merasa bersemangat saat ada orang2 yang mengutarakan niatnya untuk memulai sebuah usaha, keinginan saya untuk membantu orang orang yang memiliki hasrat untuk berwirausaha tetapi tertahan di modal.  Selalu ada keinginan untuk meningangkat derajat ekonomi orang orang yang saya nilai berada dibawah saya. Kadang niat saya sama sekali bukan untuk mengambil untung, hasrat saya adalah ingin membuat sebuah usaha itu berjalan.  Jadi passion saya adalah dalam dunia entrepreneur? Entah,  tapi kerugian selama ini belum membuat saya jera,  seperti biasa, saya kembali sedikit demi sedikit mengumpulkan modal dari gaji saya sebagai karyawan untuk suatu saat memulai lagi.

Bagaimana dengan pekerjaan yang tengah saya jalani saat ini? Bukannya rendah hati, tapi memang saya tidak pernah bangga atau benar benar nyaman dengan apa yang saya jalani sekarang.  Saya  tidak mampu melihat jenjang karir atau masa depan di dalamnya, jadual kerja yang sangat tidak pasti dan menyita sangat mengganggu saya. Belum lagi penghasilannya. Selalu terasa iri saat ada rekan yang resign dan pindah ke perusahaan lain, sementara saya terpaksa terus bertahan.  Bukan ingin membuat tulisan ini  menjadi tempat berkeluh kesah, ada sisi baik dari pekerjaan ini. Sebagai petugas lapangan, saya benar benar menikmati perjalanannya, tapi bukan pekerjaannya. Melihat tempat baru, kebudayaan yang berbeda, manusia. Bagaimanapun juga sebagian dari diri saya selalu menuntut sebuah cerita

Saat bertugas saya sering bersentuhan dengan perusahaan perusahaan perminyakan multinasioal, bekerja disekeliling orang-orang dengan pekerjaan stabil, liburan terjadwal, hidup terencana, asuransi kesehatan dan tunjangan hari tua yang menenangkan, dan slip gaji delapan digit. Kalau sedikit saja kontrol ikhlas yang saya punya lepas, maka langsung dunia yang luas ini terasa begitu menyesakan. Tapi apakah ada mimpi saya menjadi bagian dari mereka? Jujur, hanya sebatas materi. Saya selalu merasa miris menatap bumi ini diexploitasi secara berlebihan,  diperkosa oleh manusia manusia yang selalu haus akan energy dan keuntungan.  Jadi mungkin bisa saya katakan ini bukan passion saya.

Buku? Ya, ada banyak ketertarikan saya pada buku. Tumbuh dalam keluarga yang bukan hanya menyukai membaca, tapi menjadikannya gaya hidup. Begitu ditanamkan oleh orang tua saya untuk mencintai buku. Terbentur biaya dan waktu luang memang koleksi buku saya tidak melimpah dan tak pula banyak ragamnya. Tapi saya menyukai dunia buku sepenuhnya, kadang saya menulis juga, walau cuman hal remeh temeh. Saya tergerak membuat beberapa webblog, satu diantaranya tentang koleksi buku saya, saya coba konsisten dalam membuatnya. Saya tergerak dan terpacu untuk menyusunnya, waktu luang saya gunakan sebagian untuk seputar hal ini, membaca, mengulas dan mempublikasikannya dalam blog. Motivasi awal saya sebenarnya adalah untuk memanage cara membaca saya, karena banyak buku yang sudah saya beli tetapi sebelum saya sempat membacanya saya sudah terpikat untuk membeli buku baru lain. Maka dengan cara ini saya berharap saya bisa lebih terkoordinir dalam membaca sekaligus mendaftar buku yang saya miliki.
Buku memang tidak benar-benar sesuatu yang membuat saya merasa benar-benar HIDUP. Tapi memang membuat saya terbangun, tergerak & terpacu untuk berkarya setiap hari, tanpa paksaan, semuanya dengan kesadaran penuh. Jadi kita bisa lanjut ke pertanyaan selanjutnya, ”Apabila uang bukan persoalan dimanakah anda sekarang? Apabila waktu bukan masalah,apa yang anda kerjakan sekarang? ….hmmm, tidak mungkin saya melulu berkutat dengan buku, saya ingin melakukan yang lain.  jadi?

Saya mulai dengan berandai-andai saja. ….mmm

mmm….,terlalu banyak berandai-andai membuat saya ingin menulis hal lain. Jadi, topik ini kita sambung lain  kesempatan saja.  Saya pamit tulis yang lain dulu.
Ciao…

Sabtu, 29 Oktober 2011

Jalan-jalan sore


trek matak ke matak kecil
Jalan-jalan sore di pulau Matak, berdua bersama seorang kawan, kami berangkat tepat pukul 14.30  dari kamar, rute Matak besar-Matak kecil via jalan dan pantai. Trek full tanjakan untuk sampai ke Matak kecil yang berada di balik bukit sisi lain dari pulau ini, untunglah jalan sudah diaspal dengan baik, sementara kanan-kiri dijejali pepohonan yang lebat, cengkeh, sukun, kelapa dan durian disana-sini sepanjang jalan. Setelah ¾ perjalanan, tepat di atas bukit adalah titik balik kemiringan, pemandangan yang indah saat melihat kearah pangkal dan ujung jalan, tampak basecamp awal perjalanan ini, berbatasan dengan teluk dan sudut lain kepulauan. Mulai dari sini jalan menurun sangat curam, saya rasa kemiringannya lebih dari 450. mungkin tinggal sisa 1/8`perjalanan kami temukan ada jalan baru yang sedang di bangun berbelok kearah kanan. Jalan baru yang tengah dibangun pengembang lokal untuk membuat dermaga bongkar muat dan prasarana pendukung, kami berbelok arah mengikuti jalan baru yang masih tanah merah bergelombang, beberapa monyet tiba tiba meloncat keget turun dari pepohonan saat kami lewat. Ujung jalan adalah pantai yang sedang direklamasi, dari situ kami susuri pantai berbatu yang sedang surut kearah matak kecil. Perjalanan melambat karena medan yang tidak mudah, tapi terbayar oleh  pemandangan yang memukau. Sesekali kami menemui penduduk yang sedang menambang batu. Melihat air laut sore yang hangat dan jernih, sempat pula terlintas untuk berenang tapi kami urungkan mengingat harus memakai celana dalam basah saat pulang nanti.
Setiba di Matak kecil kami masuk ke shorebase sebuah perusahan minyak nasional. Keadaan sudah berbeda dari lima tahun yang lalu ketika terakhirkali saya kesana. Dermaga kayu sudah berubah menjadi beton dan mess  yang mirip cottage sederhana sudah bertambah, sayang dibawah mess yang berstruktur panggung di atas laut itu, bunga karang yang dahulu terlihat jelas tembus dari permukaan air yang jernih, penuh corak memenuhi dasar laut kini sudah tidak ada lagi, berikut ikan-ikan berwarna warni yang tak pernah putus berseliweran kini menghilang, Yang tersisa tinggal serpihan-serpihan bungakarang mati yang bertebaran pucat di dasar laut dan  ikan yang hanya sesekali saja terlihat lewat di bawah dermaga.
menelusur pantai berbatu

Setelah istirahat sebentar, minta minum dan numpang shalat ashar kami balik, karena sudah sore, kami putuskan untuk tidak lagi mengambil rute pantai. di pos security kami ditanyai kok bisa-bisanya kami masuk komplek shorebase mereka tanpa melewati pos jaga. Saat saya terangkan bahwa kami menyusur pantai tadi, anggota AL yang jaga menyindir  mengatakan memang seharusnya komplek dipagar hingga pantai, teman saya nyeletuk ringan, “iya kami sedang belajar jadi infiltran pak”.
Perjalanan pulang diawali dengan “pendakian”, turunan curam yang kami lewati tadi sekarang harus dititi menanjak perlahan. Kami sepakat istirahat setiap duapuluh langkah. Setelah puncak bukit terlewati, jalan landai menurun menanti. Waktu tempuh meringkas menjadi kurang dari satu jam saja. Setiba di kamar waktu sudah 17.30. total tiga jam perjalanan kami jalan-jalan sore, lumayan bakar kalori yang sudah menumpuk berlebih di pinggang, walau pada malamnya kami timbun lagi saat makan malam.
hosh.. hosh... hosh


Rabu, 12 Oktober 2011

Long way to die


Beberapa “Mama” berderet menggelar dagangannya di sekitar bandara Babo, dengan kardus-kardus bekas seadanya, mereka semua menjual kepiting bakau, kepiting dengan ukuran sangat besar menurut saya jika dibandingkan dengan kepiting yang sering saya liat jika melintasi pasar Keramatjati.  Dengan harga berkisar seratus ribu hingga seratus limapuluh ribu rupiah setiap kardusnya, berisi sepuluh sampai lima belas ekor (walau sebenarnya tak berekor, tapi istilahnya jadi apa?!?!), dengan ukuran  seperti itu jadi terasa murah.
Buah tangan yang satu ini menjadi khas bila saya pulang bertugas dari Tangguh, Bintuni, bukan karena khasnya saja tapi karena trip yang hanya dari airport ke airport tanpa melewati perkotaan atau kawasaan perniagaan lokal, maka kepiting ini sajalah opsi yang ada untuk oleh-oleh dibawa pulang. Sebenarnya masih ada pilihan seperti ikan asap atau sarang semut, tapi untuk sengaja membelinya, kita harus menyempatkan diri pergi ke pasar setempat saat transit di bandara Biak, dan biasanya tidak ada waktu (atau terlalu malas) untuk melakukan itu.
Dalam kotak kardus bekas kemasan mei instan kepiting berderet rapat, rapih menghadap keatas dengan capit terikat. Entah sudah berapa lama para tahanan ini terikat dalam posisi seperti itu, Mama, sang penjual berpromosi tentang kotak kepitingnya yang berisi beberapa betina, saya manggut manggut tidak mengerti.
Setelah terbang melintasi hampir separuh panjang negeri ini para kepiting ini terlihat jinak, karena walau banyak ikatan pada capitnya sudah terlepas, pada saat saya taruh mereka di ember, mereka tidak banyak bergerak. Ternyata saya salah, karena satu malam saya biarkan mereka dalam keadaan relatif bebas dalam ember, dipagi keesokan harinya mereka berubah menjadi begitu agresif, dengan capit yang terangkat keatas menyerang setiap apapun yang mendekat. Rupanya perilaku kalem mereka hanya efek jet lag saja.
“Kata temen sih digetok aja kepalanya pake palu!” suara kakak perempuan saya ditelepon. Sebuah informasi yang menyesatkan. Saya pilih target korban, saya angkat palu sambil menimbang-nimbang, mencoba menakar tenaga yang akan digunakan, “Bismillah,” saya ayunkan palu penuh ragu. TOK!!!   …Si kepiting yang naas masih hidup, tapi sekarang dengan lubang bulat diatas batok kepalanya. Tidak ada tanda-tanda sang kepiting akan menemui ajalnya, hanya kepala saya sekarang yang berdenyut meliat itu semua. Jalaslah sudah sekarang, ‘si teman’, sang pemberi saran sepertinya hanya memberikan idenya berdasarkan asumsi bukan pengalaman.
Pada akhirnya saya kembali ke ide awal, eksekusi dilakukan menggunakan air mendidih.  Masih dengan kronologi yang tak kalah dramatis, pasang mata menonjol yang seperti terus menatap, beberapa hentakan saat menjemput maut, tubuh memerah, akhirnya mereka menjalani takdirnya dalam damai (semoga). Jadi, dibalik sepiring hidangan kepiting saus padang, ada jalan yang sangat panjang, jalan yang panjang untuk kematian. Dalam pencarian pembenaran, saya jadi ingat puisi Dadang Ari Mortono*)

*) Dadang Ari Mortono, “Sesaat sebelum kelinci itu disembelih” dimuat  harian KOMPAS, minggu, 16 Januari 2011

Senin, 21 Maret 2011

Bapak yang itu tuh...


Sedikit intermezzo dari pengalaman tadi malam, dengan segala hormat dan tanpa sedikit pun berniat buruk merendahkan.
Di suatu tempat penugasan saya , tadi malam, sehabis chating di kantor, saya langsung balik ke kamar, nonton tv sambil ngobrol dengan rekan saya, dia agak sedikit gagap, jadi, dalam setiap pembicaraan selalu ada kalimat yang terbata-bata dan butuh waktu sedikit lebih lama untuk menyelesaikan kalimatnya.
            Sekitar jam 00.00 tiba-tiba alarm kebakaran berbunyi, nyaring sekali.
Kami panik meloncat dari tempat tidur, berebut mengambil ear plug, teman saya coba berkata sesuatu tetapi tertahan di awal kalimat, dalam kepanikan saya tidak bisa menebak apa yang akan dia katakan
            "tut...tut....tut..," katanya tertahan, kalimatnya tak terselesaikan, saya menunggu dia dengan panik. suara alarm bertambah kencang, sementara pintu fire door perlahan mulai tertutup.
Dengan sandal yang saling tertukar, tanpa menunggu teman saya menyelesaikan kalimatnya, kami setengah berlari keluar mess.
Di muster station orang orang telah banyak terkumpul, hampir semua berkostum tidur dengan muka acak2an ngantuk. Sambil cengar cengir melihat sekumpulan perempuan temanku itu nyeletuk "banyak yang gak pake BH tuh bang!"
"Masih sempet sempetnya lo meratiin" jawab saya.
"Hehehe, iya" dia bilang. "Bapak yang itu tuh, bapak yang itu juga.."
...dasar, giliran becanda ngomongnya lancar.



Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Gagap adalah suatu gangguan bicara di mana aliran bicara terganggu tanpa disadari oleh pengulangan dan pemanjangan suara, suku kata, kata, atau frasa; serta jeda atau hambatan tak disadari yang mengakibatkan gagalnya produksi suara. Umumnya, gagap bukan disebabkan oleh proses fisik produksi suara (lihat gangguan suara) atau proses penerjemahan pikiran menjadi kata (lihat disleksia). Gagap juga tak berhubungan dengan tingkat kecerdasan seseorang. Di luar kegagapannya, orang yang gagap umumnya normal.
Gangguan ini juga bersifat variabel, yang berarti bahwa pada situasi tertentu, seperti berbicara melalui telpon, tingkat kegagapan dapat meningkat atau menurun. Walaupun penyebab utama gagap tidak diketahui, faktor genetik dan neurofisiologi diduga berperan atas timbulnya gangguan ini. Banyak teknik terapi bicara yang dapat meningkatkan kefasihan bicara pada beberapa orang.
Salah satu teknik terbaru dalam penyembuhan ini adalah dengan pijat syaraf bicara di sekitar wajah, mulut dan leher seseorang yang gagap. Seseorang yang gagap mempunyai kecenderungan untuk tidak berbicara dalam kesehariannya. Hal ini menyebabkan otot dan syaraf bicaranya menjadi kaku, sehingga mulut menjadi lebih sulit digerakkan.
Setelah otot dan syaraf gagap lentur karena dipijat, barulah sang gagap ini diberikan terapi bicara sesuai dengan usianya. Tentu saja terapi bicara bagi anak, berbeda dengan terapi bicara anak-anak. Bagi seseorang yang menderita gagap karena genetika, disarankan untuk selalu memijat syaraf ini setiap hari.

tukang nenteng kaleng