Selasa, 13 April 2010

Balongan


“Hasilnya udah on, tinggal nunggu discharge, tinggal pulang aja pak, paling laporan hasil analisanya baru dibuat besok siang, balik lagi aja besok…”
Uh” sia-sia sudah penantian selama 7 jam hari itu, selama melangkah keluar gedung saya coba kunci mulut saya, mencoba untuk tidak bersungut.
Di luar hari sudah gelap, masih ada beberapa warung makan yang buka namun angkot angkot berwarna kuning itu sudah tak terlihat lagi. Baru jam 8 malam tapi jalan sudah lengang, hanya terlihat satu becak, tak ada pilihan lain.


“Bunderan pak! Bisa?”
“Bisa,” ujarnya sambil menegakan sandarannya
“Berapa?”
“Jauh, …dua puluh ribu” ujarnya, sayapun mengangguk tak sampai hati untuk menawar.
Tubuh rentanya bangkit memutar kendaraan roda tiga tersebut ke posisi agar saya bisa naik dengan mudah, sebelum menduduki sadel, tangannya yang kurus dengan terampil menyalakan selinting rokok kretek, wush… wush, asap pun mengepul di kegelapan. Sesuatu yang selalu tidak sanggup saya pahami sebagai seorang yang tidak merokok, Seperti lokomotif uap, sepertinya paru parunya harus terbakar terlebih dahulu sebelum digunakan.

Sepuluh menit berlalu semenjak kami meninggalkan pangkalan becak, jalan yang terlewati landai, sepi dan gelap, roda, rantai dan gigi saling berderit menjadi musik pengiringi sepanjang perjalan kami yang lengang. Hening tanpa percakapan, si bapak terus mengayuh, nafasnya seperti susul menyusul tak beraturan ketika jalanan berubah menjadi menanjak saat mendekati jembatan. Sebelum mencapai titik kulminasi si bapak turun dari sadelnya, dengan tersengal mendorong becak dengan bobot penumpangnya yang hampir mendekati satu kuintal itu.

Saya rikuh untuk tetap duduk, tapi juga bingung, apa saya harus turun? Atau malah sekalian bantu mendorong becaknya saja? Tapi masa sih? Akhirnya saya duduk canggung menahan nafas sampai tanjakan terlewati.
Sisa perjalanan malam itu menjadi sebuah moment perenungan, saya yang penuh keluh kesah dalam menjalani pekerjaan dan bapak tukang becak dengan dengan dua puluh ribu rupiah  untuk sebuah perjalanan yang tak sebanding. Sungguh tak pandai saya bersukur.

 Di muka sebuah hotel murahan saya turun, dengan lembaran uang dan senyuman kecil bapak tukang becak melompat ke atas sadel dan mulai mengayuh pedal pedal yang memutar roda hidupnya, menjauh dan menghilang di kegelapan, meninggalkan saya sendiri yang masih termenung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tukang nenteng kaleng